Dalam hidup ini,seorang manusia tidaklah pernah berhenti untukbelajar, dan juga tiada pernah berhenti meniru apa yang dilihat dan didengarnya, mulai dari prilaku orang tua, saudara, teman, guru,,musisi idola, bintang film hingga tokoh super hero kesayangan pun tidak lupa dijadikan sebagai sampel dalam berperilaku. Dalam hal ini media adalah salah satu komponen yang paling berpengaruh dalam membentuk kepribadian seseorang (menurutsyaikh.Taqiyuddin An nabhani kepribadian itu terbentuk dari dua hal: pola pikir dan pola sikap), bukan hanya itu, media ternyata juga memberi efek yang besar terhadap kehidupan manusia.
Saa tini, dengan kondisi yang makin cepatnya arus informasi dan teknologi, tidak dapat dipungkiri media menjadi salah satu kebutuhan bagi manusia untuk mempertahankan eksistensinya, karena saat ini, siapa yang dapat dengan cepat menguasai informasi maka dunia seakan dalam genggamannya, karena dia mengetahui perkembangan dunia dengan cepat, sedangkan siapa yang lambat dalam mendapatkan informasi maka dia dapat dipastikanakan banyak kehilangan peluang dalam mendapatkan berbagai keuntungan.
Berbagai macam fasilitas untuk menagakses informasi dengan cepat mulai menjadi lirikan para pebisnis dunia, lihat saja misal frienster yang sekarang tergantikan oleh facebook atau twiter, blogger dan wordpress yang memanjakan user dengan fasilitas weblog nya, hingga gadget serba-bisa, maupun blackberry. Tidak lupa sajian-sajian dari media konfensional semacam, media cetak,televisi maupun radio dengan cantik, komunikatif dan atraktif selalu berusaha mengkapanyekan semua itu, sehingga karena hal inilah para remaja khususnya menjadikan semua fasilitas itu sebagai tempat untuk mencari informasi yang dibutuhkan.
Dari sinilah akhirnya informasi dapat diakses dengan cepat dan bebasnya masuk ke kepala kita dan pada akhirnya memunculkan sebuah mafahim/ persepsi tertentu, memang belajar itu wajib, memiliki banyak informasi dan pengetahuan memang adalah hal yang positif. Ilmu yang berlimpah akan sangat berperan dalam kehidupan, lebih-lebih lagi bagi seorang muslim, saat dia mau melakukan suatu amalan, berkata, bertindak atau yang lainnya dia harus tahu ilmunya, namun dengan penerimaan informasi yang bebas masuk tanpa ada filter ini, alih-alih jadi pinter tapi bisa keblinger dan sesat.
Sekali lagi saya katakan bahwa media sangat berperan penting dalam kehidupan, lihat saja dari mana kita tahu jika jepang atau korea menjadi tren senter mode pakaian di asia?, juga model rambut terbaru saat ini? Dan tidak lupa kabar bahwa Islam Teroris?. Ya tentunya semua itu didapatkan dari media yang setiap hari menjadi asupan informasi bagi kita semua.
Dalam media komunikasi, ternyata bukan hanya terdapat ilmu pengetahuan dan informasi yang baik saja. Tetapi di dalamnya terdapat juga racun yang mematikan. Saat ini, media yang ada disekitar kita juga telah menyajikan hal-hal yang bukannya membangun diri dan membuat kita ”para remaja Islam” semakin berkualitas. Bahkan tayangan-tayangan yang memberikan edukasi kepada remaja sangatlah sedikit. Disana jauh lebih banyak informasi yang melenakan remaja dan justru menjauhkan remaja dari realita kehidupan sebenarnya. Sebut saja sinetron, telenovela dan drama remaja serta film-film yang ditayangkan. Ketiganya membius remaja untuk semakin terbuai dalam angan yang serba bisa, kasih asmara yang seenaknya dan kehidupan yang bebas dari aturan. Kejahatan dan kekarasan yang ditampilkan di layar kaca agaknya makin melengkapi pengaruh buruk yang dirasakan oleh remaja. Dan yang terjadi, remaja menjadi anak-anak yang tidak hormat pada orang tuanya dan murid yang meremehkan gurunya.
Belum lagi muatan-muatan porno dalam media. Apalagi, Indonesia telah dinobatkan menjadi negara peringkat ketujuh dunia dalam hal pengakses situs porno dibawah maroko dan peringkat 11 penghasil video porno. Bahkan untuk yang satu ini, Indonesia mengalahkan Rusia yang duduk diperingkat ke-13. Fantastis bukan??? Yah, mau apa dikata begitulah kenyataannya. Bahkan efek dari pornografi dan pornoaksi sangat mengena pada diri remaja. Lihatlah kasus seks bebas yang terjadi dikalangan remaja, serta pemerkosaan oleh para remaja. Hal ini dapat anda buktikan berapa orang disekitar anda yang mengenal situs porno.
Nah, itu adalah sebagian racun yang dapat merusak mental, dan pemikiran kaum muslimin. Bagaimana mungkin sesuatu yang buruk akan membawa kebaikan? Dikarenakan muatan yang dibawa oleh media adalah muatan yang buruk, maka pelajaran dan pengetahuan yang didapat oleh remaja adalah sesuatu yang buruk pula. Hal ini membuktikan, bahwasanya kemajuan teknologi dan cepatnya informasi tidak selalu membawa pada kebaikan. Yah, fakta-fakta diatas bisa kita jadikan bahan renungan, bahwasanya apa yang kita dapatkan deri media saat ini, sungguh jauh dari kata ”baik”. Jadi ga ada salahnya, kalo orang tua menyalahkan media karena moral putra-putrinya jadi ga karuan.
Ternyata, racun media bukan hanya berhenti disitu. Masih ada racun lain yang lebih berbahaya. Racun itu, adalah racun propaganda.. Propaganda adalah sebuah rencana sistematis untuk menyebarkan suatu keyakinan atau doktrin. Singkatnya, fakta yang digunakan dalam propaganda itu belum tentu benar adanya, dan darisana ada sebuah opini untuk menyebarkan sebuah keyakinan kepada masyarakat.
Misalnya, mengenai kasus terorisme. Di media massa, sosok teroris digambarkan dengan seseorang yang penampilannya identik dengan Islam. Mulai jenggot, peci, baju gamis, rajin mengaji dan lain-lain. Maka secara tidak langsung, disini media ingin memberikan kesan kepada masyarakat bahwa sosok seorang muslim yang taat disekitar mereka bisa jadi adalah salah seorang gembong teroris.
kita perlu tahu kenapa kasus-kasus terorisme yang terjadi di luar dan dalam negeri selalu menjadi topik yang selalu hangat? Ini terjadi karena Medialah yang menjadikannya selalu hot. Yang menherankan, kenapa kasus Amrozi cs selama bertahun-tahun tidak pernah terlupakan, sedangkan kasus Poso yang lebih kejam terlihat adem ayem saja? Atau mengapa kasus pengeboman di Mumbai jadi berita panas, tetapi himbauan Paus Benediktus kepada pemerintah negara-negara eropa untuk mengkaji sistem ekonomi syari’ah sebagai solusi krisis global tidak pernah terngiang di televisi?. salah seorang pakar dari Unhas Makassar, Dr.H. Anwar Arifin, “tidak ada media yang netral dalam menyajikan berita, karena sangat dipengaruhi pemilik modal dan akan berpihak pada kelompok orang mapan.”
Nah, ternyata hal-hal yang demikian itu bukan sekedar isapan jempol belaka. Propaganda dengan gaya serupa terjadi di media. Lihat saja, bagaimana beberapa sinetron yang tayang di media televisi menampilkan adegan-adegan kekerasan yang mengatas namakan Islam? Mulai dari menyiksa Istri yang tidak patuh suami, perilaku jahat yang dilakukan oleh wanita yang berjilbab dan berkerudung seperti film pencitraan buruk terhadap islam perempuan berkalung surban yg sangat kental dengan feminismenya, 3 doa 3 cinta, kholifah, dan lain sebagainya , bukan hanya film ini saja, namun hingga film-film hollywood yang senantiasa menjadikan Islam sebagai agama teroris. Tengok saja film-film semacam Delta Force, yang menjadikan mujahid Timur Tengah menjadi tokoh jahat yang harus dibunuh karena melakukan tindakan terorisme. Dan terakhir, sebuah game keluaran molleindustria bertajuk Faith Fighter ditarik dari pasaran, karena mengandung unsur pencemaran nama baik Rasulullah saw. Dalam video game itu, digambarkan sosok agama lain seperti Yesus, Buddha bahkan ada tokoh yng diberi nama God juga Nabi Muhammad yang saling bertarung layaknya jagoan kung fu.
Pada dasarnya, menarik atau tidaknya sebuah berita atau acara ditelevisi adalah tergantung bagaimana sebuah stasiun televisi memberikan kemasan terhadap setiapacara yang dibawakannya. Masyarakat kita cenderung lebih menyukai informasi yang disiarkan secara langsung ditelevisi. Masyarakat educated yang mengertitentangsistemdalamdunia media menilai “siaranlangsung” lebihbersifatindependenketimbang “siarantunda”, terutama yang erat kaitannyadengan dunia politik. Begitu juga kaum birokrat dan elite politik dalam memandang sebuah media, baik itu media cetak maupun elektronik. Mereka cukup jeli terhadap identitas sebuah media, semisal hal yang paling mendasar adalah tentang siapa pemilik media tersebut, siapa pemilik stasiun televisi ini dan siapa pemilik koran itu. Setelah ini dan itu terjawab, maka pertanyaan lanjutan yang pasti akan timbul dalam benak kaum educated seperti ini adalah, apa latar belakang ideologi si Anu? Berpihak pada partai apa siAnu? Atau siapa donatur tetap dan terbesar di Stasiun Televisi Anu dan kira-kira apa kepentingannya?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini adalah pertanyaan yang sangat wajar sekali timbul dari kalangan publik. Dunia pendidikan menyebut paradigma semacam ini sebagai paradigma analisis kritis terhadapsebuah media.Paradigma semacam ini sesuai dengan teori yang dijelaskanoleh Stephen W. Littlejohn dalam menganalisis media. Stephen menjelaskan bahwa perkembangan teori komunikasi massa yang didasarkan pada tradisi kritis Eropa cenderung memandang media sebagai alat ideologi kelasdominan. Ironisnya, menurut Stephen W.Littlejohn, media selalu menampilkan ilusi keragaman danobyektivitas, sementara dalam kenyataannya mereka merupakan instrumen-instrumen yang jelas dari tatanan yang dominan.Dengan kata lain, media juga dapat dipandang sebagai alat yang kuat dari ideologi yang dominan. Sehingga ketika yang dominan adalah ideologi kapitalisme, mediapun akan dijadikan alat untuk memperkuat cengkaraman posisi kapitalisme.
Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran DeddyMulyana, berpendapat, apapun yang dilaporkan pers tidak pernah netral atau objektif. Sebab, mulai dari korektor, wartawan, redaksi hingga pemimpin umum dan pemilik modalnya adalah manusia yang punya latar belakang sosial budaya. jadi. Sudah mampu ditebakkan, mengapa media sangat tidak berpihak kepada Islam dan kaum Muslimin. Yah, ini semua dikarenakan sistem dan penguasa yang ada di negeri ini, tidak menerapkan Islam sebagai landasan kehidupan. Media bakalan tunduk kepada siapa saja yang berkuasa dan memiliki duit. Bahkan dalam perundangan penyiaran yang pernah saya dapatkan, tayangan bermuatan agama hanya diperbolehkan memegang bagian 30 persen dari tayangan yang dimuat. Kalo lebih dari itu, bisa jadi media tersebut bakal ditegur, karena tidak menuruti peraturan yang sudah ditentukan, jadi, mungkin dugaan kita semua benar. Lebih dari separo tayangan yang disajikan kepada kita adalah tayangan yang jauh dari Islam. Kalosudah begini, akhlak yang Islami yang dibangunoleh media, jadi hanya di dalam mimpi saja. Bolehlah, dibilang kalau saat ini media juga turut bertanggung jawab atas jauhnya kehidupan remaja dari Islam.
Lha yang punya duit itu orang-orang sekular yang memusuhi Islam, bagaimana mungkin media bakal memberikan edukasi dan pencerahan Islam? siapa yang mau dirinya jauh dari Allah? Secara naluriah, kita semua tidak ingin. Tetapi secara tidak sadar, adanya racun-racun yang menghampiri diri para remaja, membuat remaja semakin terbawa arus kehidupan sekuler. Terlebih lagi, perisai yang dibangun remaja yang tidak kokoh semakin menambah kepasrahan dalam menerima segala bentuk racun yang menyerang. Untuk itu, sebagai manusia yang memiliki label “mukmin” yang perduli pada nasib remaja dan umat harus menghentikan virus itu sekarang juga.
Teknologi dan cepatnya informasi adalah sebuah cara untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, jadi bukan teknologi atau fasilitas informasi yang salah, Tetapi isi dari informasi itu yang harus diperhatikan.
Tidak lupa, teknologi juga harus dimanfaatkan untuk pengembangan dakwah Islam dan peningkatan kualitas iman dan taqwa kaum muslimin.
Lha yang punya duit itu orang-orang sekular yang memusuhi Islam, bagaimana mungkin media bakal memberikan edukasi dan pencerahan Islam? siapa yang mau dirinya jauh dari Allah? Secara naluriah, kita semua tidak ingin. Tetapi secara tidak sadar, adanya racun-racun yang menghampiri diri para remaja, membuat remaja semakin terbawa arus kehidupan sekuler. Terlebih lagi, perisai yang dibangun remaja yang tidak kokoh semakin menambah kepasrahan dalam menerima segala bentuk racun yang menyerang. Untuk itu, sebagai manusia yang memiliki label “mukmin” yang perduli pada nasib remaja dan umat harus menghentikan virus itu sekarang juga.
Teknologi dan cepatnya informasi adalah sebuah cara untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, jadi bukan teknologi atau fasilitas informasi yang salah, Tetapi isi dari informasi itu yang harus diperhatikan.
Tidak lupa, teknologi juga harus dimanfaatkan untuk pengembangan dakwah Islam dan peningkatan kualitas iman dan taqwa kaum muslimin.
Untuk itu, kita harus bisa memilih dengan baik, Mana-mana media yang sesuai dengan koridor Islam dan mana yang tidak, selain itu, seorang muslim juga dituntut untuk menggunakan arus informasi sebagai sarana untuk meraih ridho Allah. Percaya tidak percaya, chatting bisa jadi forum ibadah dan browsing di dunia mayapun bisa mendekatkan diri pada Allah, Itu semua bisa dilakukan asalkan tercipta sebuah ketaqwaan individu dan masyarakat untuk senantiasa mengabdikan kehidupannya kepada sang Khaliq dan hal ini harus didukung oleh Negara yang memberi fasilitas kepada masyarakat untuk menjamin keamanan dan kemurnian aqidah Islam serta keimanan pada Allah danRasul-Nya. Khususnya remaja yang notabene menjadi penerus kehidupan dimasa depan.
jadi, sebagai upaya mendorong arus informasi dan teknologi yang Islami, kaum muslimin harus menguatkan aqidah islamnya. Mempelajari dan mengamati ayat-ayat Allah serta memikirkan kuasa-Nya adalah sesuatu yang wajibdilakukan. Setelah itu, mendakwahkan Islam sebagai solusi hidup satu-satunya juga satu hal yang sama sekali tidak boleh ditinggalkan, dan tentu saja, seruan atau dakwah yang dilakukan bukan hanya sekedar dakwah dalam ranah individu saja, Karena kerusakan masyarakat bukan hanya diakibatkan oleh individu-individu yang ada. Akan tetapi, juga akibat kerusakan system dan tata aturan kehidupan, dan tidak keitnggalan, penyeruan penegakan syariat Islam harus tetap dikumandangkan oleh para pemuda. Karena siapa lagi, yang dapat melakukannya? Tidak mungkin, kita berharapbanyak terhadap media-media sekulerkan? Jadi, kinilah saatnya kita menjadi pionir tegaknya kehidupan Islam. Menciptakan media yang islami, serta menjaga kualitas keislaman umat dari segala bentuk racun dunia.